Ketua GAMKI Bulungan Soroti Jembatan Apau Kayan Mangkrak, Akses Warga Masih Terbatas

TANJUNG SELOR – Harapan masyarakat pedalaman Apau Kayan, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara (Kaltara), untuk menikmati akses transportasi yang layak masih belum terwujud. Proyek pembangunan jembatan Bailey rangka baja yang diharapkan menjadi penghubung vital antarkecamatan hingga kini belum rampung, meski telah berjalan sejak 2018.

Di lapangan, kondisi proyek memunculkan keprihatinan. Sejumlah material baja tampak terbengkalai, sebagian mengalami kerusakan, sementara struktur utama jembatan belum terselesaikan. Situasi ini membuat masyarakat di wilayah seperti Sungai Boh, Kayan Selatan, Kayan Hulu, hingga Data Dian masih harus menghadapi keterbatasan akses transportasi.

Padahal, keberadaan jembatan tersebut dinilai sangat penting untuk menunjang aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga layanan kesehatan warga di kawasan perbatasan.

Informasi yang beredar menyebutkan proyek ini telah beberapa kali berganti kontraktor. Namun, pergantian tersebut belum mampu mendorong percepatan penyelesaian pembangunan. Hingga kini, progres proyek masih jauh dari harapan.

Ketua Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Bulungan, Dennis Yosafat, menilai kondisi ini berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Menurutnya, keterlambatan pembangunan infrastruktur dasar seperti jembatan memperpanjang isolasi wilayah pedalaman.

“Yang dirasakan masyarakat bukan sekadar proyek mangkrak, tapi dampaknya pada aktivitas sehari-hari. Akses terbatas membuat mobilitas warga terhambat,” ujarnya, Kamis (30/4/2026).

Ia menegaskan, pemerintah perlu segera memberikan kepastian terkait kelanjutan proyek tersebut, termasuk evaluasi menyeluruh terhadap proses pengerjaan yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir.

Sementara itu, sebelumnya Wakil Gubernur Kaltara, Ingkong Ala, juga telah menyoroti kondisi proyek tersebut. Ia menyebut pembangunan jembatan tersebut tidak memberikan manfaat optimal, bahkan dilaporkan mengalami kerusakan akibat kondisi alam.

Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai rencana kelanjutan pembangunan maupun target penyelesaian proyek tersebut.

Bagi masyarakat Apau Kayan, kehadiran jembatan bukan sekadar proyek fisik, melainkan kebutuhan mendesak untuk membuka keterisolasian wilayah. Tanpa akses yang memadai, berbagai sektor kehidupan masyarakat di perbatasan masih akan tertinggal dibandingkan wilayah lainnya.